BENGKALIS – Mahasiswa Program Studi D4 Akuntansi Keuangan Publik angkatan 2024 bersama Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng) mempertemukan pelaku UMKM, BUMDes, perbankan, dan perguruan tinggi dalam Temu Ramah Entrepreneurship bertajuk “Membangun Sinergi untuk Penguatan Pembelajaran PBL dan Tefa ACC” di Aula Mini Conference Gedung Kuliah Terpadu (GKT) 1, Rabu (7/10/2026).
Temu ramah ini merupakan bagian dari mata kuliah Kewirausahaan di bawah bimbingan dosen pengampu Husni Mubarak, sekaligus wujud penerapan pendekatan Project Based Learning (PBL) dan Teaching Factory (Tefa). Selain memperoleh pemahaman teori kewirausahaan, mahasiswa mendapatkan pengalaman langsung merancang dan melaksanakan acara yang melibatkan dunia usaha, perbankan, dan lembaga pendidikan.
Salah satu pelaku UMKM, Meli Ulfa, pemilik Warung Roti AK, menekankan pentingnya keberanian memulai usaha. Ia menceritakan bahwa Warung Roti AK, yang berdiri sejak 2020, bermula dari hal sederhana, yakni keinginannya mencicipi brownies Amanda yang kala itu belum tersedia di Bengkalis. Rasa penasaran tersebut menjadi titik awal lahirnya sebuah usaha. “Saya kemudian mencoba mengembangkan bisnis brownies karakter. Seiring waktu, usaha ini berkembang hingga merambah produk donat dan roti,” ungkap Meli.
Dari sisi perbankan, praktisi Bank Syariah Indonesia (BSI), Zubir Efendi, menyampaikan bahwa produk yang baik belum cukup untuk mengembangkan UMKM, sebab pelaku usaha juga memerlukan dukungan pembiayaan dan pendampingan. “Perbankan memiliki posisi strategis sebagai mitra yang membantu UMKM tumbuh dan naik kelas, sehingga hubungan bank dan pelaku usaha idealnya tidak berhenti pada transaksi pembiayaan, melainkan terus berlanjut agar UMKM mampu menghadapi persaingan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris P3M sekaligus pengelola Bidibeng Store Polbeng, Labriel Hadi, menyoroti peran perguruan tinggi dalam ekosistem kewirausahaan. Menurutnya, Bidibeng Store menjadikan kampus bukan sekadar tempat memperoleh teori, melainkan juga wadah praktik kewirausahaan dan sarana pengabdian kepada masyarakat. “Mahasiswa didorong terjun langsung memahami dan mengatasi kendala yang dihadapi UMKM, sejalan dengan pendekatan PBL dan Tefa yang menghadirkan pembelajaran dari permasalahan nyata di dunia usaha. Lewat pola ini, mahasiswa belajar berkomunikasi dengan pelaku usaha, memahami kebutuhan bisnis, membangun jejaring, dan mencari solusinya,” ujar Labriel.
Rangkaian pemaparan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan kerja sama antarpihak, yakni pelaku usaha sebagai motor inovasi, perbankan yang mendukung pembiayaan dan pendampingan, perguruan tinggi yang menghadirkan ilmu, tenaga, dan solusi, serta BUMDes yang memperluas ruang kolaborasi dalam membangun ekonomi masyarakat. Dengan kemitraan tersebut, pembelajaran di kampus diharapkan semakin dekat dengan kebutuhan dunia usaha, sementara UMKM memperoleh pengetahuan dan sumber daya dari kampus.
Dengan terselenggaranya acara ini, Polbeng mempertegas perannya sebagai perguruan tinggi vokasi yang hadir menjawab kebutuhan masyarakat. Ke depan, kemitraan yang terjalin diharapkan menjadi langkah awal membangun ekosistem kewirausahaan yang saling menguatkan, tempat mahasiswa belajar dari dunia nyata dan pelaku usaha memperoleh mitra pengembangan.
Naskah: Tim Jurusan Administrasi Niaga, Tim Humas Polbeng
Foto: Tim Jurusan Administrasi Niaga
