BENGKALIS – Politeknik Negeri Bengkalis (Polbeng) bersama CCROM-SEAP IPB University dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar pelatihan pemanfaatan Geographic Information System (GIS), teknologi pemetaan digital, dan data satelit untuk mendukung pengelolaan lahan pertanian, Kamis (29/10/2026), di Ruang Mini Conference GKT 1 Polbeng.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja sama riset melalui Asia-Pacific Network for Global Change Research (APN)/CAPaBLE. Pelatihan bertujuan meningkatkan pemahaman peserta dalam memanfaatkan informasi spasial dan data satelit untuk mengetahui kondisi kekeringan atau kebasahan tanah sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan dalam kegiatan pertanian.
Pelatihan menghadirkan I Putu Santikayasa dari CCROM-SEAP IPB University dan Albertus Sulaiman dari BRIN bersama tim. Peserta berasal dari berbagai unsur, di antaranya Pemerintah Kabupaten Bengkalis, Polbeng, IAIN Datuk Laksemana Bengkalis, serta kelompok tani.
Wakil Direktur III Polbeng Marhadi Sastra saat membuka kegiatan menyampaikan apresiasi kepada IPB University dan BRIN yang telah memilih Polbeng sebagai lokasi pelaksanaan pelatihan. Menurutnya, pemanfaatan teknologi dalam sektor pertanian sejalan dengan upaya meningkatkan produktivitas dan mendukung agenda ketahanan serta swasembada pangan.
“Kami berharap peserta dapat mengoptimalkan kesempatan ini untuk mendapatkan pengetahuan dan memahami pemanfaatan teknologi yang dikembangkan. Ke depan, kegiatan ini juga dapat membuka peluang lahirnya riset-riset turunan, termasuk pengembangan teknologi serupa yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan daerah,” ujarnya.
Marhadi juga berharap kolaborasi Polbeng dengan IPB University dan BRIN dapat terus berlanjut serta menghasilkan program dan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat maupun Pemerintah Kabupaten Bengkalis.
Dalam sesi materi, I Putu Santikayasa memaparkan gambaran umum proyek APN CaPaBLE CBA2024-SP1712, dilanjutkan pemaparan Albertus Sulaiman mengenai pemanfaatan GIS dan remote sensing untuk mengidentifikasi soil moisture atau kelembapan tanah dalam mendukung kegiatan pertanian.
Teknologi GIS dan penginderaan jauh memungkinkan informasi mengenai kondisi lahan, vegetasi, hingga indikasi kelembapan dan kekeringan divisualisasikan melalui pemetaan. Informasi tersebut dapat membantu dalam menentukan waktu tanam, pengelolaan air dan irigasi, serta strategi pengelolaan lahan sesuai kondisi di lapangan.
Selain pembekalan materi dan diskusi di dalam ruangan, peserta mengikuti studi lapangan untuk melihat penerapan dan perangkat riset yang dikembangkan BRIN. Perpaduan teori dan praktik ini diharapkan membantu peserta memahami penggunaan teknologi pemetaan dan data satelit serta peluang penerapannya dalam mendukung pertanian yang lebih efektif dan adaptif terhadap perubahan iklim.
Naskah dan Foto: Tim Humas Polbeng
